A.Perekonomian Terbuka danTertutup
Ekonomi
terbuka adalah ekonomi dimana ada kegiatan ekonomi antara masyarakat domestik
dan luar, mulai dari kegiatan bisnis seperti kegiatan perdagangan barang dan
jasa dengan orang lain dan bisnis dalam komunitas internasional, dan aliran
dana sebagai investasi di perbatasan.
Dalam
perekonomian terbuka, belanja suatu negara pada suatu tahun tertentu tidak
perlu sama dengan output barang dan jasa. Sebuah negara bisa mengeluarkan uang
lebih dari menghasilkan dengan peminjaman luar negeri atau dapat menghabiskan
kurang dari memproduksi dan meminjamkan pada pihak asing.
Model dasar perekonomian terbuka
adalah sebagai berikut :
Sedangkanekonomitertutupadalah model statissederhana yang
memungkinkankitauntukmelihatbagaimanatingkatbungariilmenyesuaikanuntukmenjagakeseimbangan
di pasardanapinjaman yang menyiratkankeseimbangan di pasarbarang.
Model dasarperekonomiantertutupadalahsebagaiberikut :
Negara Indonesia termasuknegaradengan system perekonomianterbuka.Indonesia
memilikirasioeksporterhadap PDB sebesar 30% sebelumterjadinyakrisis
global.Sedangkan di tahun 2009 angkatersebutnaiksebesar USD 13.33 miliar. Dalamhaliniekspor
non-migasmasihmendominasidiataranyabatubara, kelapasawit,
dankaret.Ketigakomoditastersebutmenyumbangsebesar USD34
miliar.Ekspormigashanyaberkisar 19 miliarsaja
(berdasarkan data padaDesember 2009).
Tidakbanyak data yang
sayadapatkanuntuknegara India.Indikatorsebuahnegarauntukmasukdalamkategoriperekonomianterbukaadalahadanyajalinankerjasama
bilateral atau multilateral dengannegara lain.
Dalamartikel yang sayabacasalahsatuperusahaan India yaitu Tata Steel
mengakuisisi Krakatau stellmilik Indonesia. Selainitu Tata Steel
jugatelahmengakuisisisebagianpertambanganbatubaramilikperusahaanBumi Resources
( milikkelompok Bakrie ). India jugasedanggencarmemasarkan motor Pulsar yang
diproduksikelompokusaha Bajaj.Dengan data tersebutmakasayamemasukkan India
kedalamnegaradengan system perekonomian semi terbuka.32% dari PDB
adalahkontribusidaritabunganmasyarakat.
Samasepertihalnyakeduanegara
yang telahsayasebutkandiatas, negara Thailand termasukdalamkategoridengan
system perekonomianterbuka.Rasioeksporterhadap PDB sebesar 74% sebelumkrisis global.Setelahterjadinyakrisis
global rasiotersebutmenurunbeberapapersen.
ProdukDomestikBruto (PDB)
AS selamatahun 2007 sebesar USD 13.8 T.
Diantaranya 80% bersumberdariperekonomianberbasisjasa, sedangkanperdagangan,
perakitanbarangpangandanritelmencapai 65% dari total sektorjasa.
AmerikaSerikatmasukdalamkategoriperekonomianterbuka, halitujelasterlihatkarena
AS adalahkekuatanekonomiterbesar di dunia.Mendominasisebagainegara investor
diseluruhdunia.Namunnegaraadidayatersebutkinisedangmengalami deficit perdaganganataujumlahimpormelampauijumlahekspornyadenganseisidunia,
yang beradapadakisaran USD736,6 miliar.
Negara
Inggrisadalahsalahsatunegaradenganekonomi yang kuat.Perusahaan swastaadalahsoko
guru ekonomiInggris yang mengambil 60% dariPDBnya.MeskiInggrismenjadisalahsatunegara
industry, namunnilaiekspor di tahun 1998 hanyamencapai 6.4%.Di tahun 2008
manufaktrurInggrismengalami deficit sebesar 20juta pound.Dengan data-data
tersebutsayamenggolongkannegaraInggrissebagainegaradengan system perekonomian
semi terbuka.
Dari
beberapacontohnegaradiatas, ternyatatidaksemuanegaramajumencanangkan system
perekonomianterbuka,
padahalpadaawalnyasayaberpikirbahwanegara-negaramajupastilahmenganut system
perekonomianterbuka.Karenabeberapa factor, sepertisumberdayaalam yang melimpah,
industry danteknologi yang
sudahmumpunimembuatnegaratersebuttidakperlumelakukanperdaganganinternasionalsecaraberlebihan.
Kita ambilcontohnegaraInggris yang rasioekspornyahanyamencapai 6.4% dariPDB .
Namundalam era globalisasi, tidaklahmudahmenemukannegaradengan system
murniperekonomiantertutup.Sangatsulitjikasebuahnegaratidakmenjalinkerjasamadengannegara
lain. Walausekecilapapun, merekatetapmenjalinkerjasamadibidang yang lain
tidakselaludibidangekonomi.
Inflasi
dan Kebijakan Pemerintah
B.
Pengertian
Inflasi adalah suatu keadaan di mana terdapat kenaikan
harga umum secara terus-menerus. Jadi bukan harga satu atau dua macan barang
saja, melainkan kenaikan harga dari sebagian besar barang dan jasa, dan pula
bukan hanya satu atau dua kali kenaikan harga, melainkan kenaikan haraga secara
terus-menerus.
Untuk mengetahui tinggi rendahnya kenaikan harga atau
laju kecepatan inflasi itu seringkali digunakan indeks harga. Selain iti, untuk
meneliti laju inflasi biasanya macam barang dikelompokkan menjadi kelompok
pangan, sandang, papan dan lain-lain. Semua kelompok barang tersebut mengalami
kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan angka indeks harga masing-masing.
Pembedaan
inflasi atas parah tidaknya berguna untuk melihat dampak dari
inflasi
yang bersangkutan. Apabila inflasi itu ringan, biasanya justru mempunyai
pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian untuk berkembang
lebih baik yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang menjadi
bergairah bekerja atau ada insentif untuk bekerja, menabung, maupun mengadakan
investasi.
Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah yaitu pada saat
terjadi hiperinflasi, keadaan perekonomian menjadi kacau balau. Dan
perekonomian menjadi lesu, orang banyak tidak bersemangat, menabung, maupun
mengadakan investasi dan produksi. Tabungan akan semakin
lenyap, dan digantikan dengan hoarding,
yaitu menyimpan dalam bentuk barang dan bukan uang.
Sebagai
akibat keseluruhan, jumlah barang dan jasa menjadi semakin langka dalam
perekonomian, sehingga harga tidak menjadi semakin reda kenaikannya, tetati
justru akan menjadi semakin cepat, dan perekonomian menjadi semakin parah
keadaannya. Nilai uang merosot terus, dank arena itu uang semakin tidak
berharga sehingga begitu diterima terus dibelanjakan lagi. Keadaan ini akan
semakin memperparah perekonomian.
C. Tiga aspek penting
dalam definisi inflasi, yaitu sebagai berikut :
a. Adanya kecenderungan harga-harga untuk meningkat, yang berarti
mungkin saja tingkat harga yang terjadi/actual pada waktu tertentu turun atau
naik dibandingkan dengan sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan kecenderungan
yang meningkat.
b. Peningkatan harga tersebut berlangsung terus-menerus, yang
berarti bukan terjadi pada suatu waktu saja.
c. Mencakup pengertian tingkat harga umum, yang berarti tingkat
harga yang meningkat bukan hanya pada satu waktu atau beberapa komoditas
saja.
D.Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya inflasi adalah sebagai berikut :
a. Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi
kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan barang dan jasa
b.
Tuntutan kenaikan upah dari pekerja.
c. Kenaikan harga barang
impor
d. Penambahan penawaran
uang dengan cara mencetak uang baru
e.
Kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di Indonesia
tahun 1998. akibatnya angka inflasi mencapai 70%.
E. Indeks Harga Konsumen dan Macam Inflasi
1. Indeks Harga Konsumen (IHK)
Indeks harga konsumen adalah ukuran rata-rata perubahan harga dari
suatu paket komoditas (commodity basket)
dalam suatu kurun waktu tertentu atau antarwaktu.
Tujuan penghitungan IHK adalah sebagai
berikut.
a.Mengetahui perkembangan harga barang dan
jasa yang tergantung pada diagram
timbangan IHK.
b.Sebagai pedoman untuk menentukan suatu
kebijaksanaan yang akan datang, terutama di bidang pembangunan ekonomi.
c.Sebagai penghitungan penyesuaian Upah
Minimum Kabupaten (UMK)
d.Mempermudah pemantauan supply dan demand khususnya barang
kebutuhan masyarakat yang ada di pasar.
2. Macam Inflasi
Berdasarkan
laju pertumbuhan Indeks Harga Konsumsi (IHK) atau menurut berdasarkan parah tidaknya inflasi terbagi atas :
1. Inflasi
ringan (kurang dari 10% per tahun)
2.
Inflasi sedang (antara 10-30% per tahun)
3. Inflasi berat (antara 30-100% per tahun)
Pembedaan
inflasi atas parah tidaknya berguna untuk melihat dampak dari
inflasi
yang bersangkutan. Apabila inflasi itu ringan, biasanya justru mempunyai
pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian untuk berkembang
lebih baik yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang menjadi
bergairah bekerja atau ada insentif untuk bekerja, menabung, maupun mengadakan
investasi.
Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah yaitu pada saat
terjadi hiperinflasi, keadaan perekonomian menjadi kacau balau. Dan
perekonomian menjadi lesu, orang banyak tidak bersemangat, menabung, maupun
mengadakan investasi dan produksi. Tabungan akan semakin
lenyap, dan digantikan dengan hoarding,
yaitu menyimpan dalam bentuk barang dan bukan uang.
Sebagai akibat keseluruhan, jumlah
barang dan jasa menjadi semakin langka dalam perekonomian, sehingga harga tidak
menjadi semakin reda kenaikannya, tetati justru akan menjadi semakin cepat, dan
perekonomian menjadi semakin parah keadaannya. Nilai uang merosot terus, dank
arena itu uang semakin tidak berharga sehingga begitu diterima terus
dibelanjakan lagi. Keadaan ini
akan semakin memperparah perekonomian.
Berdasarkan dari
penyebabnya, inflasi terbagi atas :
- Inflasi permintaan (demand pull inflation) adalah inflasi yang disebabkan oleh adanya tarikan permintaan terhadap barang dan jasa, sehingga mendorong hargauntuk meningkat. Tarikan permintaan ini biasanya disebabkan oleh adanya pembelanjaan defisit atau anggaran belanja pemerintah yang defisit(deficit financing).
- Inflasi penawaran (cost push inflation) adalah inflasi yang ditimbulkan karena desakan kenaikan biaya produksi, terutama kenaikan biaya tenaga kerja atau upah buruh.
- Inflasi spiral (spiral inflation) adalah inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga yang didorong oleh kenaikan upah, dan diikuti oleh kenaikan harga lagi, dan diikuti oleh kenaikan upah lagi.
- Inflasi Impor atau Imported Inflation Inflasi jenis ini terjadi karena pengaruh inflasi dari luar negeri, yaitu akibat Adanya perdagangan antar Negara
F. Kebijakan Penanggulangan Inflasi
Menurut kaum Klasik maupun Keynes
inflasi tidak hanya berkaitan dengan uang beredar, tetepi juga dengan jumlah
barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian. Oleh karena itu, untuk
menanggulangi inflasi yang utama ialah menekan laju pertumbuhan jumlah uang
yang beredar atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Cara ini dapat di tempuh
dengan berbagai kebijakan sebagai berikut:
- Kebijakan bertahap (gradual approach) yaitu menghendaki pengurangan laju pertumbuhan jumlah uang yang beredar. Tindakan ini akan mengurangi laju peningkatan harga, tetapi juga akan menambah tingkat pengangguran.
- Kebijakan drastis (cold turkey approach) yaitu menghendaki pengurangan jumlah uang beredar secara drastis, pengambil kebijakan berusaha menghilangkan inflasi secara cepat, namun dengan pendekatan ini peningkatan jumlah pengangguran menjadi lebih besar.
- Kebijakan penghasilan (income policy) yaitu menghendaki adanya penekanan tingkat upah secara cepat baik dengan perundang-undangan atau dengan himbauan. Jadi kebijakan penghasilan adalah kebijakan yang mencoba mengurangi kenaikan tingkat upah dan tingkat harga secara cepat.
- Kebijakan insentif perpajakan (tax incentive plan), dalam kebijakan ini pemerintah mengenakana pajak tambahan terhadap perusahaan-perusahaan yang menaikkan tingkat upah, dan justru mengurangi pajak terhadap perusahaan yang tidak melakukan kenaikan tingkat upah.
G. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan fiskal dan kebijakan moneter umumnya dianggap sebagai kebijakan
untuk mengelola sisi permintaan akan barang dan jasa dalam suatu perekonomian.
Kedua kebijakan ini menyangkut masalah pengelolaan permintaan dengan tujuan
untuk mempertahankan produksi nasional suatu perekonomian atau suatu negara
yang mendekati kesempatan kerja penuh (full employment) dan juga mempertahankan
tingkat harga barang dan jasa pada tingkat yang sudah tercapai sekarang.
Apabila terdapat kelebihan permintaan di atas penawaran akan dapat menimbulkan
inflasi, sedangkan apabila terdapat kelebihan penawaran di atas permintaan akan
terjadi deflasi dan pengangguran.
Pemerintah
dapat mempengaruhi permintaan dalam perekonomian dengan menggunakan kebijakan
fiskal yaitu dengan cara meningkatkan dan mengurangi pengeluaran pemerintah dan
subsidi, meningkatkan dan mengurangi tingkat pajak, sedangkan dengan kebijakan
moneter pemerintah dapat mengurangi atau menambah jumlah uang yang beredar, atau
dengan campuran dua kebijakan itu yaitu dengan mengubah pengeluaran, pengenaan
pajak ataupun jumlah uang yang beredar secara bersama-sama.
1.Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang
dilaksanakan oleh pemerintah dengan cara memanipulasi anggaran pendapatan dan
belanja negara, artinya pemerintah dapat
meningkatkan atau menurunkan pendapatan negara atau belanja negara dengan
tujuan untuk mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat pendapatan nasional.
Pada umumnya pemerintah akan berusaha
menentukan target belanja Negara,
kemudian menentukan tingkat pendapatannya paling tidak dapat menutup seluruh
anggaran belanja yang telah ditetapkan tersebut. Pada umumnya sangat sulit bagi
negara yang sedang berkembang untuk menyesuaikan pengeluaran atau belanja
negara terhadap pendapatannya. Hal ini disebabkan oleh adanya pendapatan negara
yang umumnya masih sangat rendah, sedangkan kebutuhan untuk menyediakan barang
dan jasa serta membelanjai keperluan lain sangat besar.
Adapun pengeluaran
pemerintah itu dapat dibedakan menjadi pengeluaran untuk pembelian barang dan
jasa (exhaustive expenditure), dan pengeluaran transfer (transfer expenditure)
seperti subsidi, bantuan bencana alam dan sebagainya. Di bagian depan telah
disebutkan bahwa dampak dari kedua macam pengeluaran pemerintah itu tidak sama,
karena masing-masing jenis pengeluaran atau belanja pemerintah itu memiliki
koefisien pengganda yang berlainan, walaupun keduanya memiliki dampak positif
terhadap pendapatan nasional.
1.Kebijakan
Moneter
Kebijakan moneter
merupakan kebijakan yang mempengaruhi permintaan dan penawaran akan uang guna
menjamin kestabilan ekonomi. Adapun kebijakan moneter ini secara umum dibedakan
menjadi kebijakan uang ketat (tight money policy) dan kebijakan uang longgar (easy
money policy). Selanjutnya instrument dari kebijakan
itu dapat dibedakan menjadi tiga macam instrument yaitu :
a.
Kebijakan atau politik pasar terbuka (open market operation)
b. Kebijakan
atau politik diskonto (rediscount policy)
c. Kebijakan
atau politik deking perbankan (legal reserve requirement)
a)
Kebijakan
pasar terbuka
Kebijakan moneter dengan pasar terbuka
ini digunakan untuk menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar dengan
cara pemerintah dalam hal ini bank sentral turut serta dalam jual beli surat
berharga. Kalau pemerintah ingin menambah jumlah uang yang beredar, maka ia
membeli surat berharga di pasar modal. Sedangkan kalau pemerintah bermaksud
mengurangi jumlah uang yang beredar, maka ia menjual surat berharga.
b)
Kebijakan
diskonto
Dalam kebijakan diskonto ini, pemerintah
yaitu bank sentral menentukan
tingkat atau suku bunga kredit terhadap
dana yana dipinjam oleh bank-bank umum
dari bank sentral. Kemudian bank umum dalam memberikan kredit kepada nasabah
harus memungut bunga pinjaman pula. Supaya bank umum tidak menderita rugi maka
ia harus memungut bunga dengn suku bung yang
lebihtinggi daripada suku bunga yang dikenakan oleh bank sentral
terhadap bank umum.
c)
Kebijakan
deking atau cadangan perbankan
Bank sentral sebagai banknya bank
dapat mengatur bank-bank lain dalam
melakukan usahanya, khususnya dalam hal yang berkaitan
dengan pengendalian kestabilan
ekonomi. Bank umum dalam memberikan kredit kepada para nasabah harus mengingat
ketentuan yang diberikan oleh pemerintah yaitu bank sentral. Bank umum dalam
memberikan kredit harus dideking dengan sejumlah kekayaan tertentu, seperti
emas, valuta asing sertifikat bank Indonesia dan deposito berjangka dan uang
inti.
]
Bab
IV
KESIMPULAN
Adapun yang
dapat di simpulkandarimakalahiniadalahsebagaiberikut :
Ekonomi terbuka adalah ekonomi
dimana ada kegiatan ekonomi antara masyarakat domestik dan luar, mulai dari
kegiatan bisnis seperti kegiatan perdagangan barang dan jasa dengan orang lain
dan bisnis dalam komunitas internasional, dan aliran dana sebagai investasi di
perbatasan.
Sedangkanekonomitertutupadalah model statissederhana yang
memungkinkankitauntukmelihatbagaimanatingkatbungariilmenyesuaikanuntukmenjagakeseimbangan
di pasardanapinjaman yang menyiratkankeseimbangan di pasarbarang.
Inflasi adalah suatu keadaan di mana terdapat kenaikan
harga umum secara terus-menerus. Jadi bukan harga satu atau dua macan barang
saja, melainkan kenaikan harga dari sebagian besar barang dan jasa, dan pula
bukan hanya satu atau dua kali kenaikan harga, melainkan kenaikan haraga secara
terus-menerus.
Kebijakan fiskal dan kebijakan moneter umumnya dianggap
sebagai kebijakan untuk mengelola sisi permintaan akan barang dan jasa dalam
suatu perekonomian. Kedua kebijakan ini menyangkut masalah pengelolaan
permintaan dengan tujuan untuk mempertahankan produksi nasional suatu
perekonomian atau suatu negara yang mendekati kesempatan kerja penuh (full
employment) dan juga mempertahankan tingkat harga barang dan jasa pada tingkat
yang sudah tercapai sekarang. Apabila terdapat kelebihan permintaan di atas penawaran
akan dapat menimbulkan inflasi, sedangkan apabila terdapat kelebihan penawaran
di atas permintaan akan terjadi deflasi dan pengangguran.
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar